Rabu, 08 Mei 2019

Peran Perempuan dalam Pemberdayaan Umat Era 4.0 dan Tanggung Jawabnya Terhadap Keluarga



PERAN PEREMPUAN DALAM PEMBERDAYAAN UMAT ERA 4.0 DAN TANGGUNG JAWABNYA TERHADAP KELUARGA
Oleh : Eva Khofifa
 
Zaman modern seperti sekarang, dunia kini memasuki era revolusi industri 4.0, yakni menekankan pada pola digital economy, artificial intelligence, big data, robotic, dan lain sebagainya atau dikenal dengan fenomena disruptive innovation. Melalui bukunya The Fourth Industrial Revolution Profesor Klaus Schwab sebagai penggagas World Economic Forum (WEF) menyatakan, revolusi ini secara fundamental dapat mengubah cara kita hidup, bekerja, dan berhubungan satu dengan yang lain.
Revolusi Industri 4.0 merupaka era yang diwarnai oleh kecerdasan buatan (artificial intelligence), era super komputer, rekayasa genetika, inovasi, dan perubahan cepat yang berdampak terhadap ekonomi, industri, pemerintahan, dan politik. Gejala ini diantaranya ditandai dengan banyaknya sumber informasi melalui kanal media sosial, seperti youtube, instagram, dan sebagainya.
Revolusi industri keempat digadang-gadang mampu meningkatkan laju mobilitas informasi, efisiensi organisasi industri, dan membantu meminimalisasi kerusakan lingkungan. Namun, revolusi ini tidak datang tanpa membawa masalah baru. Masalah-masalah tersebut diantaranya seperti media sosial pembawa berita bohong (hoax), juga pergeseran model-model bisnis yang mengakibatkan beberapa jenis pekerjaan tidak lagi dibutuhkan.
Guru Besar Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran Prof. Engkus Kuswarno saat menjadi pembicara kunci dalam Organizational Communication Conference (Oration) 2019 yang digelar Magister Ilmu Komunikasi Fikom Unpad di Ruang Oemi Abdurrahman, Fikom Unpad, Jatinangor, Rabu (2019/9/1) menyebutkan, berdasarkan laporan The Future of Jobs Report, World Economic Forum, terdapat lima keterampilan SDM dalam era industri 4.0 dalam rentang waktu 2015-2020. Keterampilan tersebut jika diurutkan yaitu complex problem solving, social skill, process skill, system skill, dan cognitive abilities.
Setelah tahun 2020, diperkirakan kemampuan kognitif menjadi keterampilan yang paling dibutuhkan, diikuti system skills, complex problem solving, content skills, dan process skills. Hal tersebut juga menunjukan bahwa untuk menghadapi era industri 4.0, dibutuhkan SDM yang memiliki kemampuan kognitif yang fleksibel, logika berpikir yang baik, sensitif terhadap masalah, kemampuan matematika, dan visualisasi. Secara garis besar era industri 4.0 butuh SDM terdidik artinya bahwa jika tidak menjadi SDM industri 4.0 yang cerdas (smart), maka bisa jadi akan menjadi korban pelengkap penderita.
Menghadapi masalah tersebut, perempuan dituntut untuk melek dengan fenomena yang terjadi di sekililing mereka, tidak boleh perempuan mengukung dan membatasi diri dari arus teknologi tapi justru sebaliknya, perempuan harus ikut andil dalam kemajuan revolusi industri ini. Lalu apa sajakah yang bisa dilakukan oleh perempuan dalam menghadapi masalah revolusi industri 4.0 ini.?
Seorang perempuan berkualitas mampu menempatkan dirinya dalam peran yang sangat penting, baik sebagai seorang ibu dalam mendidik generasi masa depan, maupun berperan di ranahh publik termasuk di Era Revolusi Industri 4.0. Namun, data terakhir per  Februari 2017 dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa hanya terdapat 30% pekerja perempuan di bidang industri sains, teknologi, engineering, dan matematik.
Kaum perempuan memiliki peran dan fungsi yang sangat strategis. Ini berlaku di masyarakat maupun keluarga. Apalagi, jumlah perempuan adalah mayoritas. Jika mereka diberdayakan, maka keluarga dan masyarakat akan sejahtera.
Sebetulnya banyak cara yang bisa dilakukan oleh perempuan asal dia respec (peduli) dan mau, peduli dengan fenomena yang terjadi di sekelilingnya dan mau menjadi perempuan yang berdaya sekaligus bermanfaat juga untuk publik. Terlahir sebagai perempuan adalah takdir namun menjadi perempuan yang good quality dan bermanfaat untuk orang lain adalah pilihan, tinggal anda pilih tentu semua itu ada ganjaran.
Sedikit menengok sejarah masa Nabi dan Sahabat. Pada masa Rasulullah aktivitas perempuan tidak hanya terbatas pada ruang-ruang domestik atau ruang yang ada dalam rumah tangga tetapi ada beberapa perempuan yang juga berperan dalam ranah publik. Sejarah mencatat nama-nama besar muslimah yang mempunyai peran luar biasa dibidangnya masing-masing.
Khodijah binti Khuwailid (istri pertama rasulullah SAW) melalui kemampuan lobinya upaya kelompok elit Mekkah untuk mengganjal perjuangan Nabi di kota itu selalu dapat digagalkan.
Asy-Syifa (Ummu Sulaiman) merupakan seorang guru wanita pertama dalam Islam (salah satu muridnya adalah Hafshah binti Umar, istri Rasulullah SAW), penasehat Kholifah Umar bin Khottob.
Rufaidah, adalah seorang perempuan pendiri rumah sakit dan palang merah pertama zaman Nabi Muhammad SAW.
Sedangkan peranan perempuan pada masa Khulafaur Rasidin antara lain yaitu:
Siti Aisyah (istri Rasulullah SAW), beliau sering menyampaikan gagasan-gagasannya kepada para penguasa dalam urusan kenegaraan bahkan terjun dikancah politik pada masa Usman bin Affan. Aisyah juga meriwayatkan hadis, aktif dalam bidang pendalaman keilmuan yang meliputi kajian hukum, sastra dan sejarah.
Shaykhah Shunda, beliau mengajar berbagai disiplin ilmu, mulai dari sastra, ilmu hitung sampai puisi.
Fatimah binti Muhammad SAW, merupakan putri Nabi Muhammad SAW. Beliau adalah orator ulung, terjun ke dunia politik dengan mencalonkan Ali bin Abi Tholib (suaminya) menjadi Kholifah pertama.
Selanjutnya bagaimana pula perempuan pada abad pertengahan?
Perempuan pada abad pertengahan menduduki sejumlah peran sosial berbeda. Pada Abad Pertengahan, periode sejarah Eropa yang berlangsung dari sekitar abad ke-5 sampai ke-15. Menurut  McKay, pada dekade 1560 dan 1648 merupakan penurunan status perempuan di masyarakat Eropa. Pada zaman itu perempuan dianggap sebagai sumber dosa dan merupakan makhluk kelas dua di dunia ini. Walaupun beberapa  pendapat pribadi dan hukum publik yang berhubungan degan status perempuan di barat cukup bervariasi, tetapi terdapat bukti-bukti kuat yang mengindikasikan bahwa perempuan telah dianggap sebagai makluk inferior.  Sebagian besar perempuan diperlakukan sebagai anak kecil-dewasa yang bisa digoda atau dianggap sangat tidak rasional. Bahkan pada tahun 1595, seorang profesor dari Wittenberg University melakukan perdebatan  serius mengenai apakah perempuan itu  manusia atau bukan. Pelacuran merebak dan dilegalkan oleh negara. Perempuan menikah di abad pertengahan juga tidak memiliki hak untuk bercerai dari suaminya dengan alasan apapun. (McKay, John P, Bennet D. Hill and John Buckler, 1983, hal. 437 s/d 541).
Lalu apa sajakah yang bisa dilakukan perempuan di zaman modern. Berikut beberapa hal yang bisa dilakukan oleh perempuan dalam memberdayakan umat (masyarakat) era 4.0 :
Pertama, memberikan pengetahuan dan keterampilan untuk kegiatan ekonomi kepada orang lain terutama pemberian informasi, fasilitas dan ruang untuk memasarkan hasil produk mereka, karena era 4.0 dihadapkan pada ekonomi digital.
Pemberdayaan perempuan membuka ruang bagi perempuan untuk berperan aktif secara ekonomi, menjadikan perempuan mandiri, tak bergantung pada laki-laki dan yang lebih penting lagi tidak menjadi beban negara. Maka perempuan harus didorong untuk terjun dalam berbagai bidang pekerjaan pada era revolusi industri 4.0 yang serba digital ini.
Kedua, meregulasi SDM yang terdidik, jika perempuan tersebut sebagai tenaga pendidik (Dosen/Guru) ia bisa memberikan pendidikan kepada mahasiswa agar siap terjun dalam era 4.0, ini cara strategis karena ia bisa menyampaikan informai terkait era 4.0 agar setelah lulus nanti mahasiswa tau zaman yang akan ia hadapi.
Ketiga, jika perempuan tersebut pejabat publik (pemerintah) ia bisa meluncurkan kebijakan dan program-program baik berupa pelatihan, work shop maupun seminar yang dapat memberdayakan masyarakat karena ia memiliki kewenangan, selain itu pemerintah perlu memikirkan mitigasi dari efek samping revolusi 4.0 yang bergerak ke arah otomasi digital, artificial intelligence, hingga advance robotic. Pasalnya, nantinya otomasi digital, AI, dan robot akan banyak berperan sehingga hanya dibutuhkan sedikit tenaga kerja manusia, sedangkan tenaga kerja di Indonesia berlimpah.
Selain peran publik, perempuan juga memiliki kewajiban untuk berperan di ranahh domestik (rumah tangga), Islam memang membolehkan perempuan bekerja di luar rumah. Baik dalam rangka mendukung pembangunan masyarakat, misalnya sebagai guru, dosen, dekan, rektor, manajer atau direktur perusahaan, pemilik supermarket, pengacara dan sebagainya, akan tetapi saat bekerja dia tetap terikat dengan seperangkat aturan, misalnya izin dari wali atau suami ketika hendak keluar rumah, menutup aurat, tidak berkhalwat, dan tidak melalaikan kewajibannya yang utama sebagai seorang ibu dan pengatur rumah tangga sesuai dengan hukum syara’. Ia akan menjadi istri yang salihah bagi suaminya dan pendidik anak-anaknya. Pengabdian utama dan pertama bagi seorang perempuan adalah menjadi ibu dan pendidik generasi. Baik tidaknya generasi bergantung padanya.
Peran ibu sangat berpengaruh terhadap perkembangan anak. Semenjak masa kehamilan, melahirkan, dan menyusui. Dilanjutkan dengan masa pengasuhan dan pendidikan sampai anak bisa mandiri, yakni mampu mengurus diri sendiri dan mampu membedakan yang baik dan yang buruk. Baik buruknya perilaku anak di masa dewasa ditentukan oleh  benar-salahnya pendidikan yang diberikan oleh orang tuanya, khususnya oleh seorang ibu.
Menurut Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Yohana Susana Yambise, beliau menuturkan, menjadi seorang ibu di Era Revolusi Industri 4.0 memiliki tantangan tersendiri. Sebagai seorang ibu perlu membuka diri (open mind) dan mau terus belajar mengikuti perubahan jaman yang tentunya diikuti dengan perubahan perilaku, karakter dan sikap anak-anak yang hidup di jaman ini.
“Saya berharap kaum perempuan sebagai pendidik generasi penerus mampu menerapkan nilai-nilai agama, kebaikan, dan moral dengan cara yang berbeda dengan jaman kita dahulu. Sangat diperlukan suatu pendekatan yang berbeda dari jaman yang sudah lalu dalam mendidik dan menjaga anak-anak kita agar menjadi generasi yang mampu bersaing di era global, beretika, dan membanggakan, baik bagi diri sendiri, keluarga, masyarakat, bangsa dan negara," tutup Menteri Yohana.
Persoalan domestik dan peran ganda perempuan, seringkali menjadi problem yang dilematis, terutama bagi mereka yang berprofesi sebagai perempuan karir. Padahal sesungguhnya hal itu tidak perlu terjadi bila perempuan tersebut benar-benar menghayati tugas dan kewajibannya sebagai isteri, sebagai ibu rumah tangga dan perannya sebagai perempuan karir.
Islam adalah agama yang menghormati perempuan, lalu bagaimanakah perspektif Al-quran dan hadis memandang peran perempuan di ranah publik dan domestik.
Landasan normatif tentang kewajiban perempuan untuk tinggal di dalam rumah atau hanya berkiprah di ranah domestik selalu merujuk pada QS. Al-Ahzab/33: 33, yang selengkapnya berbunyi :
tbös%ur Îû £`ä3Ï?qãç/ Ÿwur šÆô_§Žy9s? ylŽy9s? Ïp¨ŠÎ=Îg»yfø9$# 4n<rW{$# ( z`ôJÏ%r&ur no4qn=¢Á9$# šúüÏ?#uäur no4qŸ2¨9$# z`÷èÏÛr&ur ©!$# ÿ¼ã&s!qßuur 4 $yJ¯RÎ) ߃̍ムª!$# |=ÏdõãÏ9 ãNà6Ztã }§ô_Íh9$# Ÿ@÷dr& ÏMøt7ø9$# ö/ä.tÎdgsÜãƒur #ZŽÎgôÜs? ÇÌÌÈ
33.  Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu[1215] dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu[1216] dan Dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, Hai ahlul bait[1217] dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.
[1215]  Maksudnya: isteri-isteri Rasul agar tetap di rumah dan ke luar rumah bila ada keperluan yang dibenarkan oleh syara'. perintah Ini juga meliputi segenap mukminat.
[1216]  yang dimaksud Jahiliyah yang dahulu ialah Jahiliah kekafiran yang terdapat sebelum nabi Muhammad s.a.w. dan yang dimaksud Jahiliyah sekarang ialah Jahiliyah kemaksiatan, yang terjadi sesudah datangnya Islam.
[1217]  Ahlul bait di sini, yaitu keluarga rumah tangga Rasulullah s.a.w.
Dalam beberapa kitab tafsir, setidaknya ditemukan tiga model interpretasi yang berbeda dalam memahami ayat ini. Perbedaan makna ini muncul karena perbedaan cara membaca kata ق ن di dalam ayat tersebut. Pertama, sebagian besar mufassir membacanya dengan waqarna (qaf berbaris fathah). Cara bacaan ini melahirkan pengertian “hendaklah para perempuan berdiam di rumah”. Dalam ilmu balghah, kita mengenal yang disebut khabariah bi makna insyiy, redaksi informatif yang menunjukkan makna instruktif. Boleh jadi, ini ikut andil dalam menegaskan bahwa perempuan wajib berdiam diri di rumah (domestikasi).
Kedua, sebagian lagi membaca kata tersebut dengan waqirna (qaf berbaris kasrah). Bacaan ini melahirkan pengertian “hendaklah para perempuan bersenang-senang di dalam rumah” (Al-Qasimiy, 1999: 249). Meskipun tidak sepenuhnya membebaskan perempuan dari domestikasi, namun pendapat ini tampaknya lebih ramah kepada perempuan.
Ketiga, golongan ini berpendapat bahwa ayat ini tidak berarti perempuan sama sekali tidak boleh keluar dari rumah, melainkan isyarat yang halus bahwa perempuan lebih berperan dalam urusan rumah tangga. Pendapat ini nampaknya lebih realistis memandang perempuan dan mengakui bahwa mereka adalah bagian dari mahluk sosial yang mempunyai kebutuhan yang sama dengan laki-laki. Di antara kebutuhan-kebutuhan itu ada yang tidak dapat dipenuhi manakala ia tidak meninggalkan rumah. Perempuan membutuhkan pengetahuan yang boleh jadi tidak dapat diberikan oleh suaminya. Perempuan juga adalah anak dari orang tua yang boleh jadi tinggal terpisah dengannya dan demi untuk berbakti kepada keduanya mereka harus meninggalkan rumah. Perempuan adalah hamba Allah dan kewajiban untuk mengabdi kepada-Nya kadang-kadang menuntut mereka untuk meninggalkan rumah. Karenanya, menurut golongan ini, ayat ini tidak menunjukkan perintah bahwa perempuan mutlak tinggal di dalam rumah, namun boleh saja keluar dengan alasan-alasan tertentu (Sa‘id Hawa, 1999 : 4437).
Menurut pendapat jumhur fuqaha’, ada dua anggota tubuh yang boleh kelihatan dari perempuan di ranah publik, yaitu muka dan kedua telapak tangan. Dapat dipastikan, menurut kebiasaan, di kedua anggota tubuh ini ada perhiasan yang biasa dikenakan, yaitu gelang, cincin, dan perhiasan di bagian hidung bagi orang-orang India. Bagitu juga anggota tubuh kaki, menurut Abu Hanifah, boleh tampak, terlebih jika memang itu dibutuhkan ketika bekerja. Karena itu gelang kaki sebagai kebiasaan berhias bagi perempuan Arab dahulu boleh juga ikut tampak. Hanya saja dalam ayat etika bergelang hias tidak diperkenangkan menjadi pemicu syahwat dan tabarruj jahiliyah. Menurut Ibnu Kasir, al-tabarruj al-jahiliyah yang sangat dilarang bagi peempuan ketika berada di ranah publik adalah tingkah perempuan di depan laki-laki dengan aurat terbuka, sehingga segala perhiasannya kelihatan, yang seharusnya tidak dinampakkan.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa, perempuan abad modern yang dihadapkan pada revolusi industri keempat harus berdaya sekaligus memberdayakan masyarakat lain sebagai bentuk kepedulian sosial, dalam ajaran islam perempuan tidak dilarang aktif di ranah publik atau wanita karir selama tidak membahayakan diri sendiri, terbebas dari resiko yang akan menimpa pisiknya atau psikisnya (fitnah), tidak melanggar syariat islam dan tidak melalaikan tanggung jawabnya terhadap keluarga.



Sumber bacaan
Al-Qasimiy, Mahasin at-Ta’wil, jilid II. Bairut: Dar al-Fikr, 1999.

Ibnu Katsir. Tafsir al-Qur’an al-Azhim. Jilid 3. Beirut-Libanon: Dar al-Fikr, 1992.

Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. “Daya Saing Perempuan Di Era Revolusi Industri 4.0”. Siaran Pers Nomor: B-049/Set/Rokum/MP. 1 April 2018.

McKay, John P, Bennet D. Hill and John Buckler,  A History of Western Society, Second Edition. Houghton Mifflin Company, Boston. 1983.

Sa‘id Hawa, al-Asas fi at-Tafsir, Jilid ke-8. Kairo: Dar as-Salam. 1999.

W

About W

Hidupilah organisasi, jangan numpang hidup di organisasi.