Rabu, 08 Mei 2019

Eksistensi Perempuan di Ranah Politik




Eksistensi Perempuan Di Ranah Politik
 Oleh : Kamalatan Nihaya

Perempuan adalah seorang pejuang. dalam firman Allah tentang perempuan, terdapat kisah tentang Asiyah istri Fir’aun yang kafir tetapi ia tetap kuat dan berjuang dalam kesolehannya. Ia tidak tertarik dengan janji Fir’aun yang semu, ia tetap menjadi seorang perempuan yang taat kepada Allah walaupun berada dalam kondisi paling sulit sekalipun, hal tersebut tertera dalam QS At-tahrim ayat 11. Allah sendiri bahkan secara khusus menurunkan kalam-Nya yang diberi nama surat An-nissa yang berarti Perempuan atau wanita. Surat an-nisa menjadi salah satu bukti kemulian nya para perempuan, yang merespon dari peristiwa abad jahiliah dimana  perempuan ditempatkan jauh dibawah laki-laki, lahirnya bayi perempuan di anggap sebagai aib besar pada waktu itu, orang-orang kafir quraish tega mengubur hidup-hidup kelahiran bayi perempuan. Dalam Qs. An-nisa menjelaskan berbagai macam pembahasan mengenai perempuan.
Sejalan dengan perkembangan zaman dan arus digitalisasi yang semakin pesat, disadari atau tidak, eksistensi seorang  perempuan akhir-akhir ini semakin menuju ke arah yang lebih positif dan semakin berkembang. perempuan sudah memiliki kesempatan yang sama untuk berperan aktif dalam berbagai macam sektor kehidupan. Perempuan memiliki hak dan kewajiban yang sama dengan laki-laki untuk berpartisipasi dalam membangun negeri, tak terkecuali dalam dunia politik.
Tren keterlibatan perempuan dalam dunia politik kian zaman kian meningkat. Salah satu indikatornya adalah semakin banyak nya politisi perempuan di senayan, hal ini didasari atas  kebijakan afirmasi perempuan di undang kan pada tahun 2013, partai peserta pemilu diminta memperhatikan keterwakilan perempuan sekurang nya 30% saat mengajukan calon anggota legislatif, dan pada pemilu tahun 2014 lalu, partai yang tidak menyertakan keterwakilan 30% perempuan di setiap dapilnya akan di coret dari peserta pemilu di dapil yang caleg perempuannya kurang. Aturan ini efektif menggenjot keterwakilan perempuan dalam legislatif, koalisi perempuan indonesia mencatat di pemilu 2014 ada 2.467 perempuan maju di 77 dapil, artinya di setiap dapil ada 32,04% nya adalah caleg perempuan.
Parlemen Indonesia mendorong dan memperjuangkan hak-hak perempuan melalui anggaran dan kebijakan yang pro terhadap perempuan, diharapkan tingkat diskriminasi dan kekerasan terhadap perempuan di dunia politik dapat dihapuskan. Parlemen di Indonesia mendorong agar seluruh negara ikut serta dalam mengupayakan, menghentikan kekerasan terhadap perempuan dan menciptakan kehidupan publik yang lebih adil bagi perempuan. Parlemen Indonesia  melalui ketua badan kerjasama antar parlemen DPR RI yakni ibu Nurhayati Ali Assegaf mengharapkan peran parlemen menjalankan fungsinya dalam bidang anggaran harus mementingkan kaum perempuan hal ini disampaikan ibu Nurhayati saat menghadiri sidang interpalementer junior di swiss pada tahun 2016
 Meski  representatif perempuan di ranah politik sudah di dorong sedemikian rupa melalui berbagai macam kebijakan, namun hasilnya masih jauh dari memuaskan. Seperti di kutip scholastica gerintya di tahun 2017 menuturkan bahwa  Di level ASEAN indonesia menempati peringkat keenam terkait keterwakian perempuan di parlemen. Sementara di level dunia internasional, posisi indonesia berada di peringkat 168 negara, jauh di bawah Afganistan, Vietnam, Timor Leste, dan Pakistan.
Rendahnya keterwakilan perempuan di ranah politik dapat dijelaskan kedalam setidaknya dua alasan. Pertama, masih mengakar kuatnya paradigma patriarki di sebagian besar masyarakat indonesia. Pola pikir patriarki cenderung menempatkan perempuan dibawah laki-laki, misalnya saja ketika seorang perempuan berbicara mengenai politik sering diberikan pandangan atau komentar negatif. Politik di anggap bukan pembicaraan yang cocok bagi kaum perempuan dan sering kali pula politik dan perempuan dianggap tidak berkaitan satu sama lain bahkan kontruk berfikir yang semacam itu ada pada perempuannya sendiri. Kedua, Keterlibatan perempuan yang masih sangat minim di parlemen dibarengi pula dengan kurangnya keinginan perempuan terlibat di dunia politik mengakibatka;n Sering nya politisi perempuan mengalami kekerasan psikologis dan diskriminasi.
Dalam hal ini partisipasi perempuan dalam politik memberikan warna tersendiri, perempuan membawa pandangan dan talenta berbeda dalam pembentukan agenda politik. Perempuan mempunyai kemampuan melihat persoalan dengan hati, tentunya hal ini penting minimalnya untuk meningkatkan partisipasi perempuan dalam berkarir di kancah politik. Di posisi manapun perempuan, perempuan memiliki acuan untuk bagaimana memajukan perempuan itu sendiri, bagaimana hak-hak perempuan dapat terpenuhi, dan bagaimana meningkatkan kualitas kehidupan perempuan-perempuan, keluarga dan anak-anaknya hal tersebut selaras dengan ajaran islam yang menempatkan perempuan sebagai ummun wa rabatul bait menjadi ibu cerdas bagi anak-anaknya dan menjadi manajer urusan rumah tangganya. Tidak hanya hal itu, islam juga memberikan peluang besar bagi perempuan untuk berkonstribusi aktif di tengah masyarakat salah satunya adalah turut serta berpolitik, islam membolehkan perempuan menjadi seorang pemimpin sebagaimana laki-laki.
Dalam islam perempuan juga memiliki hak memilih dan dipilih menjadi majelis ummat. bahkan dalam suatu riwayat menyebutkan Asmaa bin ka’ab, adalah salah satu dari perempuan tangguh jaman dulu yang ikut berperan aktif dalam berpolitikan umat pada massa nya. Dalam perjalanan peradaban islam banyak mencatat perempuan-perempuan hebat. Perempuan tidak hanya unggul dalam ilmu-ilmu islam, tetapi juga dalam kaligrafi, sastra serta bidang ilmu lainya seperti matematika, astronomi, dan teknik. Dikutip dari Mabda Tv bahwasannya pada abad ke-10,             Lobana adalah perempuan dari Cordoba, ia seorang ahli matematika sekaligus menjadi sekretaris pribadi khilafah bani umayyah Al-hakam II.  Perempuan menjadi bagian dari mahkluk Allah yang tinggal di muka bumi yang diberi amanah oleh Allah sebagai khalifah fil ‘ardh, yang juga sama-sama diamanahkan oleh Allah untuk menjadi pemimpin bumi tempat tinggalnya, karena dalam Qs Al-baqoroh ayat 30 tidak disebutkan bahwa laki-laki yang harus jadi pemimpin, tetapi khalifah fil ‘ardh itu berlaku untuk semua manusia termasuk perempuan dan artinya         dalam pemahaman islam sesungguhnya perempuan itu bisa berperan aktif di dalam dunia politik termasuk memegang kebijakan,berkontribusi dalam parlemen asalkan sesuai dengan ajaran Allah.


Sekian_

Ahmad Fathuroji

About Ahmad Fathuroji

Hidupilah organisasi, jangan numpang hidup di organisasi.