Rabu, 08 Mei 2019

Al-Qur'an dan Hadis Mencumbu Manusia



AL-Qur’an dan Hadis Mencumbu Perempuan
            Berbicara perempuan, maka selayaknya berbicara tentang keindahan. Lelaki yang tidak didampingi perempuan bagaikan perahu tanpa sungai, malam tanpa bintang, atau biola tak berdawai.
            Tanpa perempuan, bayi tak akan pernah lahir, dan yang lahir pun tak dapat merasakan indahnya kasih sayang. Tanpa perempuan, masa muda seorang lelaki akan menjadi gersang, masa-masa matangnya akan menjadi hampa, dan boleh jadi masa tuanya akan menjadi penyesalan.
            Pengalaman penulis, atau bahkan pengalaman lelaki pada umumnya, ketika perempuan memasuki hidup lelaki, maka ia seketika menjelma seorang penyair, seniman, sastrawan, yang haus akan keindahan.
            Perempuan sangatlah penting bagi lelaki, yang kerap terjadi adalah mereka bersedia saling membunuh hanya untuk memperebutkannya. Masih ingat pada benak kita, bahwa sebab pembunuhan pertama antar saudara kandung adalah karena seorang perempuan. Kendati lelaki yang pembohong serta mementingkan diri sendiri dan perempuan yang banyak bicara juga tinggi hati, apabila keduanya bertemu tetap saja pertemuan mereka itu indah dan menyenangkan, selama mereka masing-masing telah terbiasa dan saling mengenal lagi saling membutuhkan.
            Setidaknya ada tiga poin penting dalam tulisan sederhana ini. Pertama, proses kejadian dan kedudukan perempuan. Kedua, bagaimana menghormati dan memanjakan perempuan. Ketiga, tentang dunia kepemimpinan bagi perempuan. Tentunya berdasarkan Alquran dan Hadis.
            Sebelum melangkah lebih jauh, alangkah baiknya kita ketahui dulu makna perempuan dan bagaimana proses perempuan diciptakan.
            Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia V mengartikan perempuan lebih kepada bentuk fisik. Yakni, perempuan adalah orang (manusia) yang mempunyai vagina, dapat menstruasi, hamil, melahirkan anak, dan menyusui. Sesuatu yang tidak mungkin dilakukan oleh seorang laki-laki, meskipun dengan kecanggihan dunia kedokteran dapat mengubah laki-laki menjadi perempuan dengan beberapa tahapan operasi, tetap saja tidak dapat lepas dari kodrat aslinya.
            Masih dalam sumber yang sama, terdapat pengertian yang serupa namun lebih kepada non fisik, yaitu kata “Wanita”. Diartikan sebagai perempuan yang dewasa, atau dalam dunia Islam kondang dengan sebutan baligh.
            Sementara itu, cendekiawan muslim dan juga pakar tafsir Indonesia Muhammad Quraish Shihab mengatakan, perempuan dapat melakukan pekerjaan apapun selama ia membutuhkannya atau pekerjaan itu yang membutuhkannya. Semua dapat dilakukan selama norma-norma agama dan asusila tetap terpelihara.
            Pandangan seorang Profesor yang meraih gelarnya di Universitas Al-Azhar Mesir  di atas menurut pandangan penulis adalah upayanya mengangkat derajat perempuan dengan mensetarakan haknya bersanding sama dengan laki-laki, singkatnya; kesetaraan gender.
            Hampir sama dengan apa yang penulis uraikan di awal tulisan ini, Yusuf Al-Qardhawi mengatakan bahwa perempuan adalah penyempurna bagi laki-laki. Bagi seorang lelaki, tanpa perempuan dunia layaknya sebuah neraka, dan dengan adanya perempuan hidup bisa menjadi surga di dunia ini.
            Kiai Said Aqil Siradj menegaskan bahwa perempuan adalah makhluk mulia, dengan bukti telah diabadikannya sebuah nama surah An-Nisa yang tak lain memiliki arti perempuan. Tidak ditemukan surah Ar-Rijal dalam Alquran. Tandasnya.
            Lantas bagaimana Alquran menggambarkan sebuah kedudukan seorang perempuan? Mengenai kedudukan perempuan, memaksa kita terlebih dahulu mengetahui bagaimana asal kejadian perempuan menurut Alquran. Salah satu ayat yang menggambarkan demikian adalah Surah Al-Hujarat [49] : 13.
            Ayat tersebut menjelaskan tentang asal kejadian manusia dari seorang laki-laki dan perempuan, sekaligus berbicara kadar kedudukan kemuliaan di sisi-Nya, bukan dari keturunannya, suku atau yang terpenting yaitu tidak dari jenis kelaminnya, akan tetapi dari seberapa banyak kadar ketakwaannya terhadap Allah swt.
            Mahmud Syalyut, mantan Syaikh Al-Azhar, menyinggung ayat tersebut dalam bukunya Min Tawjihat Al-Islam bahwa, tabiat kemanusiaan antara lelaki dan perempuan hampir dapat dikatakan sama. Allah telah menganugerahkan kepada perempuan sebagaimana menganugerahkan kepada lelaki potensi dan kemampuan yang cukup untuk memikul tanggung jawab, dan menjadikan kedua jenis kelamin ini dapat melaksanakan aktifitas-aktifitas yang bersifat umum maupun khusus.
            Ayat lain yang populer mengatakan tentang asal kejadian perempuan adalah Surah An-Nisa [4] : 1. Yang menjadi perdebatan diantara ulama tafsir adalah kata nafs  dalam penggalan ayat tersebut. Ulama sekelas Jalaluddin As-Suyuthi, Ibn Katsir, Al-Qurthubi, Al-Biqa’i, Abu As-Su’ud, bahkan At-Tabarsyi, salah satu ulama bermadzhab Syi’ah sepakat mengatakan kata tersebut sebagai “Adam”.
            Berbeda dengan pandangan di atas, ulama tafsir kontemporer Muhammad Abduh dalam Tafsir Al-Manar nya berpendapat bahwa kata nafs ialah diartikan sebagai “jenis”.
            Hemat penulis, ulama terdahulu mengartikan kata nafs sebagai Adam karena tak lepas dari kata setelahnya yang berbunyi zaujaha, yang mempunyai makna harfiyahnya sebagai “pasangannya”, mengacu kepada isteri Adam, yakni Hawa.
            Dapat disimpulkan bahwa ulama terdahulu mengatakan perempuan diciptakan dari laki-laki itu sendiri. Tentu saja pandangan ini berpotensi negatif bagi perempuan, salah satunya pernyataan “tanpa lelaki, perempuan tidak akan ada”.
            Ulama terdahulu yang berpendapat demikian tentu bukan tanpa dasar, pandangan tersebut agaknya bersumber dari sebuah hadis yang menyatakan “Saling pesan memesanlah untuk berbuat baik kepada perempuan, karena mereka diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok” (HR. At-Tirmidzi dari Abu Hurairah).
            Meskipun ulama terdahulu memahaminya secara harfiyah, namun tidak sedikit ulama kontemporer memahaminya secara metafora, bahkan ada yang menolak keshahihan hadis tersebut.
            Teruntuk pemahaman secara metafora, memahaminya bahwa hadis tersebut memperingatkan laki-laki agar menghadapi perempuan dengan bijaksana, karena ada sifat, karakter, dan kecenderungan mereka yang tidak sama dengan lelaki, bila tidak disadari maka lelaki akan bersikap tidak wajar terhadap perempuan. Pandangan inilah yang nanti akan di bahas lebih intim pada paragraf berikutnya.
            Ulama tafsir kontemporer lainnya, Rasyid Ridha mengatakan dalam kitab Tafsir Al-Manar nya, Seandainya tidak tercantum kisah kejadian Adam dan Hawa dalam kitab Perjanjian Lama, niscaya pendapat yang mengatakan bahwa perempuan diciptakan dari tulang rusuk Adam tidak pernah akan terlintas dalam benak seorang muslim.
            Perjanian Lama yang mengatakan demikian rincinya adalah sebagai berikut: “Ketika Adam tidur lelap, maka diambil oleh Allah sebilah tulang rusuknya, lalu ditutupkannya pula tempat itu dengan daging. Maka dari tulang yang telah dikeluarkan dari Adam itu, dibuat Tuhan seorang perempuan”.
            Ayat lain yang mengatakan tegas tentang persamaan kedudukan antara laki-laki dengan perempuan terdapat dalam surah Al-Isra’ [17] : 70. Tentu saja, kalimat anak-anak Adam dalam ayat tersebut mencakup laki-laki dan perempuan. Pemehaman demikian kemudian dipertegas lagi oleh penggalan ayat dalam surah Ali Imran [3] : 195 yang berbunyi “Sebagian kamu adalah bagian dari sebagian yang lain”.
            Beberapa perdebatan mengenai kedudukan laki-laki dan perempuan tersebut, dapat ditarik benang merah bahwa Allah tidak melihat perbedaan seseorang dari jenis kelaminnya, akan tetapi bagaimana makhluknya ini menjadi mulia dengan kadar ketakwaannya yang kaya. Juga bagaimana cara kita untuk lebih menghargai ciptaan-Nya, terkhusus kepada seorang perempuan, terlebih seorang yang menghargainya itu adalah laki-laki, Maka, tak elok rasanya menghadapi perempuan dengan sebuah kekerasan. Perempuan adalah makhluk penuh dengan kelembutan, maka untuk menaklukkannya harus dengan kelembutan pula.
             Setiap sudutnya, perempuan terdapat sisi keindahan. Keindahan inilah yang merupakan anugerah dari Tuhan yang diberikan kepada sosok perempuan. Dengan keindahan yang dipancarkan oleh perempuan kerap kali menarik pandangan seorang lelaki, lelaki yang tertarik oleh seorang perempuan yang disukainya ia akan lebih memperhatikan dirinya sendiri, bagaimana caranya supaya perempuan itu memperhatikan dirinya kembali. Mulai dari penampilan pakaiannya, rambutnya, juga aroma tubuhnya yang kerap dilumuri oleh wewangian.
            Ada beberapa sisi romantis Nabi Muhammad dalam memanjakan perempuan, dimulai dari hal yang kecil, ambil misal panggilan khumaira yang disematkan kepada Siti Aisyah yang memang mempunyai pipi kemerah-merahan. Terlepas Nabi Muhammad adalah utusan Allah, hal demikian sebenarnya telah menunjukkan bahwa Nabi adalah sosok yang romantis dalam memanjakan perempuan.
            Melihat kenyataan sekarang, para remaja yang dimabuk asmara juga kerap kali memiliki panggilan khusus bagi yang dicintainny, sebagai upaya menunjukkan rasa kasih sayangnya. Pun dengan penulis, memanggil dengan sapaan “kamu” kepada seorang perempuan yang dicintainya adalah bentuk perlakuan kasar. Artinya, perlakukanlah perempuan seistimewa mungkin.
            Selain itu, ada pula kesunnahan bagi pengantin baru sebelum melaksanakan malam pertamanya, yakni, dianjurkan untuk meminum segelas susu untuk berdua, yang konon amalan tersebut merupakan salah satu ritual Nabi.
             Nabi diutus ke muka bumi memang untuk menyempurnakan akhlak yang mulia, akhlak yang mulia tersebut tercermin dalam sikap Nabi yang memerdekakan beberapa budak, Nabi beranggapan bahwa semua manusia mempunyai kedudukan yang sama, yang membedakan adalah sisi ketakwaan kepada Allah swt. Memang, beberapa budak tersebut tidak hanya perempuan, terdapat pula beberapa budak laki-laki, akan tetapi sikap yang tercermin oleh Nabi tersebut hemat penulis adalah sebuah upaya untuk mengangkat derajat perempuan.
            Perempuan harus dihormati dan dicintai, Nabi Muhammad sendiri menyatakan bahwa diciptakan oleh Allah buat beliau dari apa yang terhidang di dunia ini, perempuan dan wewangian serta shalat menjadi buah mata kesukaannya (HR. An-Nasa’i melalui Anas Ibnu Malik). Pada kesempatan lain, beliau bersabda “Dunia ini adalah kesenangan dan yang paling menyenangkan adalah perempuan yang shalihah” (HR. Muslim dan An-Nasa’i mealui Abdullah Ibnu Amr Ibnu Al-Ash).
            Sungguh hati ini merasa teriris, tatkala mendapat berita dari media mengenai kekerasan terhadap perempuan. Yang paling anyar tentu berita Ibu dan puterinya berusia tujuh tahun di Palembang ditemukan tewas bersimbah darah.
            Meskipun belum pasti dalang dibalik kasus tersebut, namun dapat kita simpulkan bahwa pelaku tidak mempunyai rasa kasih sayang terhadap seorang perempuan, terlebih korban adalah seorang ibu dan seorang anak perempuan.
            Kekerasan terhadap perempuan terus meningkat setiap tahunnya. Selama kurun waktu 2017 saja terdapat 348.000 kasus kekerasan terhadap perempuan yang didominasi KDRT dan pelecehan di dunia cyber. Angka tersebut secara tidak langsung menunjukkan kurangnya pendidikan menghargai perempuan di Indonesia ini. Jika pemahaman terhadap sosok perempuan sudah tertanam, maka angka tersebut boleh jadi dapat menurun setiap tahunnya.
            Menilik masa lalu, memang kekerasan terhadap perempuan sudah lama terjadi. Termasyhur dalam kisah masyarakat Arab jahiliyah memperlakukan perempuan dengan martabat yang rendah, mereka akan membunuh bayi yang baru lahir dengan kelamin perempuan, mereka menganggap bahwa mempunyai perempuan adalah sebuah aib dan simbol kelemah.
            Tak sekedar di Arab, masyarakat Yunani yang terkenal dengan pemikiran-pemikiran filsafatnya, tidak banyak membicarakan hak dan kewajiban perempuan. Di kalangan elit mereka perempuan disekap dalam istana.
            Beralih ke topik terakhir mengenai perempuan dan kepemimpinan. Masalah kepemimpinan perempuan adalah sebuah persoalan yang paling aktual untuk terus dibincangkan. Persoalan inilah yang sempat menjadi tema pada bahsul masail di Muktamar NU di Lombok pada tahun 1997. Kala itu, muncul dua kubu yang berbeda pendapat, pertama dari Kiai Nur Muhammad Iskandar dengan tegas menolak Presiden dari kalangan perempuan, sedangkan Masdar Farid Mas’udi tidak menemukan dasar atau dalail yang menolak kepemimpinan dari kalangan perempuan.
            Singkat cerita Ketua PBNU Abdurrahman Wahid kala itu dalam pernyataannya kepada pers mendukung ide bahwa perempuan dapat menjadi Presiden.
            Selain dari Gus Dur, KH. Husain Muhammad memberikan sumbangan pemikirannya, menurutnya bahwa segala sesuatu tergantung pada zaman, pada konteks sosiologis, dari dulu sampai sekarang, dari abad ke abad dan dari tahun ke tahun. Yang dicari olehnya adalah esensi ajaran agama, substansi dan perinsip-perinsip yang mesti dipegang teguh, termasuk perinsip kesetaraan gender juga tercantum di dalam Alquran.
            Paling tidak ada dua alsan yang mendasari larangan perempuan untuk menjadi pemimpin. Pertama, Ayat Ar-rijalu qawwamuna ‘alan-nisa, QS. An-Nisa [4] : 34. Kedua, Hadis yang mengatakan tidak akan berbahagia satu kaum yang menyerahkan urusan mereka kepada perempuan.
            Penjelasan poin yang pertama menurut Muhammad Quraish Shihab bahwa kata ar-rijal dalam ayat tersebut bukan berarti lelaki secara umum, tetapi memiliki arti “suami” karena konsiderans perintah tersebut seperti ditegaskan pada lanjutan ayat adalah karena mereka (para suami) menafkahkan sebagian harta untuk isteri-isteri mereka. Sedangkan yang dimaksud dengan kata “lelaki” adalah kaum pria secara umum,
Tentu konsideransnya tidak demikian. Terlebih lanjutan ayat tersebut secara jelas berbicara tentang para isteri dan kehidupan rumah tangga. Ungkapnya.
               Penjelasan poin berikutnya juga sama, hadis ini tidak bersifat umum, hadis ini ditujukkan  kepada masyarakat Persia ketika itu, harus dikaitkan dengan konteks pengucapannya, yakni berkenaan dengan pengangkatan puteri penguasa tertinggi Persia sebagai pewaris kekuasaan ayahnya yang mangkat.
            Bagaimana mungkin dinyatakan bahwa semua penguasa tertinggi yang dari golongan perempuan pasti akan gagal? Bukankah Alquran berbicara betapa bijaknya Ratu Saba’ yang memimpin negeri Yaman? (Baca QS. An-Naml [27] : 44).
            Bukankah dalam kenyataan zaman dahulu hingga dewasa ini seorang perempuan dapat berhasil memimpin di berbagai Negara dari sekian banyak kepala Negara laki-laki? Bahkan bisa dikatakan dari golongan perempuan lebih unggul.
            Dengan bukti menilik masa lalu, ada Cleopatra (51-30 SM) di mesir adalah seorang pemimpin perempuan yang kuat, ganas, dan cerdik. Ada lagi yang bernama Semaramis (sekitar abad ke -8 SM). Dalam istana para penguasa dinasti Arab dan Turki, konon sering kali yang memegang jalannya pemerintahan adalah ibu para penguasa mereka.
            Tak usah jauh-jauh, di Negeri kita juga sepertinya sudah tidak asing mengenai kepemimpinan perempuan. Dimulai dari Presiden RI ke 5 Megawati Soekarno Puteri, di jajaran Menteri ada Ibu Susi Pujiastuti, Khofifah Indar Parawansa mewakili dari pemimpin wilayah Jawa Timur, Wali Kota Surabaya yang dipimpin oleh seorang perempuan yang tegas bernama Tri Rismaharini, dan masih banyak lagi pemimpin perempuan dari kalangan perempuan.
            Belum lagi di beberapa mancanegara, contohnya saja di Sinegal yang pernah memiliki seorang Perdana Menteri bernama Mame Madior Boye yang memimpin Republik Sinegal dari kurun 2011-2012. Bahkan di Singapura sempat memiliki Perdana Menteri Muslim perempuan bernama Halimah Yacob. Menariknya kala itu di Singapura bermayoritaskan Budha dan Kristen.
            Dari sekian banyak uraian mengenai perempuan, penulis dapat berkesimpulan bahwa perbedaan fisik antara laki-laki dan perempuan bukanlah penghalang dalam melakukan kebebasan dalam menyalurkan haknya, selama itu tidak melanggar norma yang berlaku, maka sah-sah saja seorang perempuan melakukan kewajiban yang layaknya dilakukan oleh seorang laki-laki. Sekali lagi penulis tegaskan bahwa dalam urusan agama bukan perbedaan antara keduanya, semua makhluk di mata Allah sama, yang membedakan hanya seberapa kaya akan ketakwaan kepadaNya.

Wallahu A’lam….








Biografi Penulis
Nama                         : Fasfah Sofhal Jamil
TTL                            : Cirebon, 5 Oktober 1994
Alamat                      : Japurabakti Astanajapura Cirebon
Jurusan                     : Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir
Semester                   : IV
Fakultas                   : Ushuluddin Adab dan Dakwah
WA                             : 085219897038
e-mail                         : sofhaladnan@gmail.com

W

About W

Hidupilah organisasi, jangan numpang hidup di organisasi.